[pullquote]Orangtua mana yang tak bersedih saat buah hatinya terserang diare. Pipi merahnya memucat, dan tubuhnya tampak lemah. Tiada lagi keceriaan di wajahnya. [/pullquote]
[dropcap]D[/dropcap]ikatakan diare bila buang air besar yang frekuesinya lebih sering (lebih dari 5-6 kali sealama 24 jam) dengan tinja lebih encer dari biasanya. Diare menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat, selain itu usus kehilangan kemampuannya untuk menyerap cairan dan elektrolit yang diberikan kepadanya.
Lebih kurang 10% episode diare disertai dehidrasi /kekurangan cairan secara berlebihan. Bayi dan anak yang lebih kecil lebih mudah mengalami dehidrasi dibanding anak yang lebih besar dan dewasa. Oleh karena itu, mencegah atau mengatasi dehidrasi merupakan hal penting dalam  penanganan diare pada anak
Etiologi
Infeksi baik itu oleh virus, bakteri dan parasit merupakan penyebab diare tersering. Virus, terutama Rotavirus merupakan penyebab utama (60-70%) diare infeksi pada anak, sedangkan sekitar 10-20% adalah bakteri dan kurang dari 10% adalah parasit.
Cairan rehidrasi oral
Cairan rehidrasi oral (CRO) atau yang dikenal dengan nama ORALIT adalah cairan yang dikemas khusus, mengandung air dan elektrolit digunakan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi saat diare.
Tata laksana
Pengamatan klinis merupakan langkah awal yang penting dalam serangkaian penanganan diare pada anak, terutama dalam hal menemukan  derajat dehidrasi. Adanya darah di dalam tinja harus dipikirkan adanya infeksi usus oleh bakteri patogen. Peningkatan jumlah leukosit dalam tinja merupakan petanda adanya infeksi bakteri.
Terapi rehidrasi
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mencegah atau mengatasi dehidrasi pada anak yang mengalami diare, yaitu (1) mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi, (2) mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung, dan (3) pemberian cairan rumatan.
Tanpa dehidrasi
Pada keadaan ini, buang air kecil masih seperti biasa. ASI diteruskan, tidak perlu membatasi atau mengganti makanan, termasuk susu formula. Dapat diberikan CRO 5-10 ml setiap buang air besar cair.
rotavirus
Dehidrasi ringan-sedang
Anak terlihat haus dan buang air kecil mulai berkurang. Mata terlihat agak cekung, kekenyalan kulit menurun, dan bibir kering.  Pada keadaan ini, anak harus diberikan cairan rehidrasi dibawah pengawsan tenaga medis, sehingga anak perlu dibawah ke rumah sakit. CRO diberikan sebanyak 15-20 ml/kgBB/jam. Setelah tercapai rehidrasi, anak segera diberi makan dan minum. ASI diteruskan. Pemberian minuman seperti cola, gingerale, aple juice, dan minuman olah raga (sports drink) umumnya mengandung kadar karbohidrat dan osmolaritas yang tinggi. Minuman tersebut dapat menyebabkan diare osmotik yang lebih berat disamping mengandung kadar Na yang rendah sehingga sering menyebabkan hiponatremia. Teh sebaiknya tidak digunakan sebagai cairan rehidrasi karena juga mengandung kadar Na yang rendah. Makanan tidak perlu dibatasi karena pemberian makanan akan mempercepat penyembuhan. Pemberian terapi CRO cukup dilaksanakan pada ruang observasi di UGD atau Ruang Rawat Sehari.
Muntah bukan larangan untuk pemberian CRO. CRO harus diberikan secara perlahan-lahan dan konstan untuk mengurangi muntah. Keadaan anak harus sesering mungkin direevaluasi
Dehidrasi Berat
Selain gejala klinis yang terlihat pada dehidrasi ringan-sedang, pada keadaan ini juga terlihat napas yang cepat dan dalam, sangat lemas, keasadaran menurun, denyut nadi cepat, dan kekenayalan kulit sangat menurun. Anak harus dibawa segera ke Rumah Sakit untuk mendapat cairan rehidrasi melalui infus.
Dietetik
Memuasakan anak yang menderita diare akut hanya akan memperpanjang durasi diarenya. Air susu ibu harus diteruskan pemberiannya. Pada bayi yang telah mendapat susu formula, susu formula bebas laktosa hanya diberikan kepada bayi yang mengalami dehidrasi berat dan bayi yang secara klinis memperlihatkan intoleransi laktosa berat dan diarenya bertambah pada saat diberikan susu.  Susu tersebut  dapat diberikan selama 1 minggu. Intoleransi laktosa umumnya bersifat sementara akibat adanya kerusakkan  mukosa usus. Aktivitas laktase akan kembali normal begitu epitel mukosa usus mengalami regenerasi.  Gejala intoleransi laktosa mencakup diare cair profus, kembung, sering flatus, sakit perut, kemerahan di sekitar anus dan tinja berbau asam.
Antibiotika
Antibiotika tidak diberikan secara rutin pada diare akut, meskipun dicurigai adanya bakteri sebagai penyebab keadaan tersebut, karena sebagian besar kasus diare akut merupakan self limiting. Pemberian antibiotika yang tidak tepat akan memperpanjang keadaan diare akibat disregulasi mikroflora usus.
Lintas diare

  1. Berikan oralit
  2. Berikan tablet Zinc selama 10 hari berturut-turut
  3. Teruskan ASI-makan
  4. Berikan antibiotik secara selektif
  5. Berikan nasihat pada ibu/keluarga

Download artikel lengkapnya di Majalah Anakku Digital :

 
85 persen kasus diare yang dialami orang Indoensia kebanyakan karena infeksi rotavirus sehingga tidak memerlukan pengobatan antibiotik.
Sedangkan sisanya sebesar 16% kasus diare di Indonesia baru disebabkan oleh bakteri. Obat antibiotik baru diperlukan jika diare tersebut disebabkan oleh bakteri.
Diare merupakan salah satu penyebab utama kematian pada bayi. Ketika diare, cairan tubuh banyak yang terbuang, begitu pula elektrolit penting yang menunjang fungsi tubuh.
Pada diare, kuman mengganggu kinerja enzim yang terdapat pada jaringan usus halus. Kuman ini mengganggu sistem penyerapan usus dan menarik cairan di luar usus untuk mengalir kembali masuk ke dalam usus. Akibatnya, cairan dan elektrolit memenuhi usus sehingga menyebabkan diare dan mual.
“Menurut data survei kementerian kesehatan tahun 2005 sebanyak 85% kasus diare di Indonesia tidak memerlukan antibiotik sebab antibiotik hanya dipakai untuk membunuh bakteri. Untuk mengatasi diare akibat rotavirus, cukup meminum oralit dan splemen zinc,” kata dr Badriul Hegar, PhD., SpA(K), dokter anak di RSCM dan ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam acara seminar media di kantor IDAI, Jl Dempo No 13 Matraman, Jakarta, Rabu (18/4/2012).
Membedakan Diare Karena Virus dan Bakteri
Untuk membedakan diare akibat bakteri dengan diare akibat virus, dr Badriul memiliki trik tersendiri. Jika balita tidak diberi makan selama 6 jam kemudian diarenya berkurang, maka diarenya disebabkan oleh virus. Namun jika setelah puasa diarenya tidak berhenti, maka diarenya disebabkan oleh bakteri.
Pada diare akibat bakteri, bakteri menghasilkan racun yang selalu mempengaruhi penyerapan airan di usus. Namun pada diare akibat virus, diare dapat dikurangi dengan mengurangi asupan makanan yang masuk ke usus.
“Untuk diare yang disebabkan bakteri, meminum oralit sudah cukup membantu. Minum air putih saja tidak akan mengganti elektrolit yang terbuang. Suplemen zinc diperlukan untuk memperkuat regenerasi sel usus dan memperkuat sistem imun,” kata dr Badriul.
Zinc sebenarnya dapat diperoleh dari makanan seperti sayur dan buah, tetapi jumlahnya tidak cukup banyak untuk membantu mengatasi diare. Sedangkan untuk oralit, kandungan ion Natrium yang dibutuhkan untuk mengatasi diare adalah sebeasar 90 mg.
Untuk diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau sering disebut disentri, pemberian antibiotik penting untuk mengentikan perkembangan penyakit. Salah satu tandanya adalah kotoran yang keluar disertai darah.
Diare pada anak masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, karena angka kesakitan dan kematiannya yang masih tinggi. Dengan angka kejadian 2-3 episod per anak per tahun, maka akan terdapat sekitar 60-90 juta kasus diare pada anak balita. Hasil penelitian di berbagai negara Asia menunjukkan diare memberikan kontribusi sebagai penyebab kematian sekitar 15% pada balita. Kurang lebih separuh kasus diare tersebut disebabkan oleh rotavirus.
Rotavirus merupakan penyebab tersering diare berat pada bayi dan anak di seluruh dunia, Berdasarkan analisis data, di dunia dalam setahun akan terjadi 111 juta epidod infeksi rotavirus, 25 juta diantaranya dirawat jalan, 2 juta dirawat inap dan 440.000 sampai 611.000 meninggal terutama di negara berkembang. Angka kematian tersebut merupakan 5 persen dari seluruh kematian pada balita.
Bagaimana penularan Rotavirus? 
Rotavirus ditularkan dari orang ke orang terutama melalui melalui rute fekal-oral. Pada fase akut diare rotavirus, tinja anak mengandung lebih dari 100 milyar partikel virus per gram tinja. Pengeluaran virus tersebut terjadi mulai dari sebelum timbulnya gejala sampai 10 hari setelahnya. Penularan diantara anggota keluarga sering sekalai terjadi. Orang dewasa yang kontak dengan penderita diare rotavirus, 30-50 persen akan terinfeksi rotavirus ini walaupun tanpa gejala.Bila tertelan rotavirus, sebagian besar partikel rotavirus akan dinonaktifkan oleh asam lambung. Tetapi diperkirakan sedikitnya 1-10 organisme lolos dari lambung untuk dapat menginfeksi usus halus.
Gejala biasanya muncul setelah masa inkubasi 2-3 hari. Mulai dengan demam dan muntah yang mendadak, diikuti 24-48 jam kemudian dengan diare cair. Biasanya, mencret 10 sampai 20 kali sehari. Gejala biasanya berlangsung 3 sampai 8 hari. Demam terjadi pada lebih dari separuh kasus dan biasanya tidak tinggi, walaupun pada beberapa kasus dapat mencapai lebih dari 390C.
Bagaimana rotavirus didiagnosis? 
Kalau kita menjumpai anak di bawah 2 tahun dengan demam dan muntah dan kemudian memperlihatkan diare cair yang sering perlu dicurigai diare karena rotavirus. Gejala intoleransi laktosa sering  dijumpai pada sebagian besar kasus berupa diare cair berbau asam, kembung dan kemerahan pada anus akibat iritasi oleh tinja asam. Diare biasanya berlangsung 5-14 hari tergantung pada usia, status gizi dan pemberian obat-obatan yang diberikan. Pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diare rotavirus yang paling praktis adalah mendeteksi rotavirus pada tinja dengan metoda quicktest yang memberikan hasil dalam beberapa menit.
Bagaimana mencegah infeksi rotavirus? 
Perbaikan higiene dan sanitasi perorangan dan lingkungan ternyata tidak dapat menurunkan angka kejadian infeksi rotavirus, oleh karena itu rotavirus tetap merajalela di negara maju. Peran menyusui dalam mencegah diare rotavirus juga tidak jelas, angka kejadian infeksi rotavirus pada bayi yang menyusui dan bayi formula tidak banyak berbeda. Beberapa upaya pencegahan telah dilakukan untuk mencegah diare rotavirus salah satunya adalah dengan pemberian probiotik. Pencegahan yang paling efektif adalah dengan vaksinasi, sayangnya vaksin rotavirus saat ini masih dalam proses untuk masuk ke Indonesia.

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version