Antibiotika adalah obat nomor dua paling sering digunakan setelah obat antidepresan juga paling sering disalahgunakan.
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]E[/dropcap]feknya, selain merugikan buat si pasien, juga terjadi resistensi alias kuman tak mempan lagi yang akhirnya bisa berbahaya untuk kehidupan manusia.Kuman penyebab infeksi telinga tengah seperti streptokokus pneumoniae, hemofilus influenza, dan moraxella catarrhalis dikatakan banyak yang tak mempan lagi karena pemakaian antibiotika berlebihan. Belum lagi pemakaian antibiotik yang bisa membunuh banyak kuman atau mahal meski alasannya tak jelas, menambah rentetan masalah akibat antibiotika.
Gunakan secara rasional
Setiap kali kita membaca kemasan antibiotika, tentu selalu tercantum “harus dengan resep dokter”. Mengapa? Karena keputusan untuk menggunakan antibiotik tak sembarangan dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang tepat. Setelah memutuskan menggunakan antibiotika, dilanjutkan dengan pemilihan jenisnya yang paling sesuai baik efektivitas, keamanan, kenyamanan, kecocokan, serta harga obat. Apalagi untuk anak-anak, antibiotika perlu diberikan secara hati-hati karena mereka masih dalam tumbuh kembang.
Bagaimana antibiotika digunakan

Secara umum, antibiotika digunakan dalam tiga cara yaitu terapi empiris, definitif, dan pencegahan.

Empiris

Pemberian antibiotika secara empiris biasanya merupakan terapi awal sebelum data laboratorium ada, dan ini yang paling sering dilakukan. Tentunya harus diberikan dengan banyak pertimbangan secara educated guess (dugaan berbasis pengetahuan). Jadi, dokter menyimpulkan dari gambaran penyakit tertentu yang mengarah pada kuman tertentu. Misalnya infeksi kulit paling sering disebabkan kuman stafilokokus atau streptokokus, sedangkan infeksi saluran kemih didominasi kuman gram negatif seperti E.Coli, Enterobakter, dan golongan proteus. Kuman Hemofilus influenza dan morazella sering ditemukan pada radang telinga tengah dan sinusitis (radang sinus). Pemberian antibiotik secara empiris dilakukan sesuai dengan kuman terbanyak yang ada di daerah tersebut yang diperoleh dari penelitian.

Definitif

Terapi definitif dilakukan setelah kuman ditemukan lewat biakan kuman atau uji kepekaan. Antibiotik yang dipilih idealnya dapat membunuh bakteri penyebab, tepat sasaran, bisa ditoleransi pasien, dengan mempertimbangkan umur anak, keadaannya, adanya penyakit atau komplikasi, fungsi ginjal, hati, dan sebagainya. Terapi ini memang ideal namun kelemahannya adalah faktor waktu. Biakan kuman dan uji kepekaan membutuhkan waktu 3-7 hari dan ini menyulitkan terutama pada infeksi yang berat.

Terkadang dokter memberikan kombinasi dua antibiotikdengan tujuan mengobati infeksi yang belum jelas kuman penyebabnya, infeksi multipel, serta meningkatkan aktifitas obat dan untuk mencegah resistensi. Tapi cara ini tidak dianjurkan untuk pemakaian antibiotik jangka lama.

Profilaksis (pencegahan)

Pada keadaan tertentu antibiotika digunakan untuk mencegah penyakit. Biasanya digunakan pada infeksi saluran kemih berulang, pasien dengan transplantasi organ tubuh atau pasien dalam kemoterapi maupun tindakan bedah.

Untuk anak yang sakit dan datang ke praktik dokter, pengobatan antibiotika kebanyakan diberikan secara empiris. Selain karena sulit mengontrol apakah si anak akan kembali ke dokter yang sama, juga dibatasinya waktu untuk mendiagnosis penyakit. Biasanya yang tersulit adalah menentukan penyebab virus atau bakteri terutama pada infeksi saluran napas yang mencakup organ telinga, hidung, dan tenggorokan, serta saluran napas bawah, demikian juga infeksi saluran cerna.

Berbagai penyakit di yang sering terjadi dan dikaitkan dengan penggunaan antibiotika

Faringitis akut

Faringitis akut atau radang faring akut sebagian besar disebabkan virus, sedangkan bakteri antara lain streptokokus beta hemolitikus grup A, streptokokus grup C, kuman anaerob dan campuran berbagai kuman. Sulit memang membedakan apakah ini disebabkan virus atau bakteri, namun.kebanyakan faringitis akut akan sembuh sendiri. Ada satu kuman yaitu streptokokus beta hemolitikus grup A yang bisa menyebabkan penyakit berbahaya pada anak bila dibiarkan,hingga pada kasus ini antibiotika perlu diberikan. Dari gejalanya, bisa dilihat apakah ada plak pada amandel si anak, kelenjar getah bening leher bagian depan membengkak, tidak disertai batuk, dan suhu umumnya meningkat hingga 380C. Bila ditemukan tiga dari empat gejala tersebut, kemungkinan penyebab kuman itu mencapai 75%. Antibiotika yang diberikan antara lain golongan penislin V diminum sepuluh hari atau Benzathine penicilin G disuntikkan satu kali. Obat lain seperti Eritromisin juga bisa digunakan. Faringitis akut yang lain cukup diobati dengan obat pereda gejala (simptomatik).

Otitis media akut (radang telinga tengah)

Otitis media akut atau OMA sering ditemukan pada anak, paling banyak terjadi pada umur 7 bulan sampai 3 tahun. Penyebab antara lain bakteri dan virus. Biasanya didahului oleh infeksi saluran napas atas seperti batuk pilek. Gejalanya gendang telinga membonjol, ada cairan keruh di rongga telinga tengah. Kecurigaan bisa bertambah pada anak yang orang tuanya perokok, menggunakan dot atau empongan, atau dititipkan di Tempat Penitipan Anak. Gejalanya mendadak dengan keluhan sakit telinga dan keluar cairan dari telinga. Bila diperiksa, membran timpaninya tampak berwarna kuning atau kemerahan serta ada cairan di rongga telinga tengah.

Umumnya OMA sembuh tanpa antibiotik, namun masih banyak dokter meresepkan antibiotika. Alasan tersering adalah orang tua meminta untuk diberi antibiotik. Banyak orang tua tidak sabar menunggu hasil terapi simptomatik dan tidak tega melihat anaknya gelisah akibat penyakitnya.

Jika pun harus diberikan antibiotika, pilihan pertama adalah obat turunan penisilin, sefalosporin, kotrimoksazol, dan makrolid. Ada pula dokter yang menunggu hingga 2-4 hari untuk melihat perkembangan penyakitnya. Kecuali, untuk anak di bawah usia 6 bulan, antibiotika wajib diberikan meski diagnosis belum tepat benar.

Rinosinositis akut (radang sinus dan hidung)

Sinusitis adalah peradangan sinus hidung yang hampir selalu berawal atau dimulai dengan radang hidung (rinitis) alias pilek. Sinusitis yang disebabkan bakteri sering didahului oleh infeksi virus, tetapi dapat pula menyertai kondisi lain seperti alergi hidung, kelainan anatomi hidung, polip, daya tahan kurang, rinitis karena obat, atau ada fungsi lapisan hidung yaitu mukosiliar yang terganggu.

Kuman yang sering menyebabkan sinusitis streptokokus pneumoniae dan hemofilus influenza, dapat pula morazella catarrhalis, stafilokokus aureus, kuman anaerob ataupun virus, jarang oleh jamur. Gejalanya seperti batuk pilek biasa disertai hidung mampet, ada ingus yang mengalir di tenggorokan, nyeri di daerah wajah. Diagnosisnya tidak mudah dan kuman penyebab sering berbarengan antara virus dan bakteri. Namun, cairan hidung yang kental dan keruh disertai gejala batuk pilek yang mulai menyembuh tapi menjadi berat lagi lebih megnarah pada infeksi bakterial.

Bagaimana pemberian antibiotik? Banyak kasus sembuh sendiri tanpa pemberian antibiotik. Dengan atau tanpa antibiotik, kasus rinosinusitis membaikdalam 7 -10 hari. Bila 7-11 hari belum ada perbaikan, antibiotik dapat diberikan. Pilihannya adalah penisilin, makrolid, sefalosporin, dan kotrimoksazol. Antibiotika harus diminum selama 7-14 hari tetapi ada yang mengatakan hingga 21 hari. Obat Antihistamin dan dekongestan atau kombinasinya serta pengencer dahak masih diragukan efektivitasnya namun cukup melegakan.

Infeksi lainnya

Infeksi seperti infeksi kulit dan jaringan lunak, pneumonia atau radang paru-paru, infeksi saluran cerna, infeksi saluran kemih perlu juga mempertimbangkan apakah bakteri si biang keladi.

Referensi :

  1. Centers for disease control and prevention (CDC) media relation. Global resistance to antibiotics. From the NIH, Spetember 17, 2003.
  2. Froom J, Culpepper L, Jacobs M. Antimicrobial for acute otitis media? A review from the international primary care network. Brit Med J 1997;315:98-102
  3. Steinman MA,Gonzales R, Lindr JA, Landefelt CS. Changing use of antibiotics in community-based outpatient practice. Arch Intern Med. 2003;138:525-33

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version