“Eh, Dinda tidak boleh hisap jempol lagi ya! Kan Dinda sudah besar.”
kata ibu Dewi pada anaknya. Banyak sekali orangtua yang menghadapi
masalah ini dengan anak mereka. Sebetulnya kenapa seorang anak bisa
mempunyai kebiasaan ini? Apa saja sih efeknya buruknya? Kapan dan
bagaimana menghentikan kebiasaan ini?

Gerakan menghisap pada bayi baru lahir sangatlah penting, karena dengan gerakan inilah sang bayi bisa memperoleh makanan untuk kelangsungan hidupnya. Ada dua teori yang berusaha menjelaskan kebiasaan menghisap, yaitu teori psikoanalitik dan teori belajar.

Teori psikoanalitik adalah teori yang dikemukakan oleh Freud, yang menyatakan bahwa kebiasaan menghisap ini adalah bagian dari suatu fase, yaitu fase oral, dimana fase ini memberikan suatu stimulasi yang nikmat bagi si anak pada daerah bibir dan mulut. Supaya seorang anak bisa berkembang sempurna secara emosional, maka fase oral ini perlu dilewati sampai selesai, yaitu ketika anak berhenti dengan sendirinya.

Teori kedua yaitu teori belajar yang mengemukakan bahwa kebiasaan menghisap ini adalah suatu hal yang dipelajari seorang bayi bahwa untuk dapat menghilangkan rasa lapar maka ia harus menghisap.

Berdasarkan teori psikoanalitik, usaha orangtua untuk menghentikan kebiasaan ini pada anaknya dengan terburu-buru atau memaksa akan berakibat buruk pada perkembangan emosional si anak, anak akan mencari kebiasaan lainnya sebagai pengganti. Sebaliknya para pendukung teori belajar cenderung menyarankan untuk bertindak lebih agresif dalam menghentikan kebiasaan ini, agar anak tidak akan mencari kebiasaan yang baru. Kedua teori ini sebaik-nya dipertimbangkan dalam penanganan kebiasaan menghisap jari.

Efek buruk dari kebiasaan menghisap jari sering ditemui pada rongga mulut. Bila anak masih dalam periode gigi susu umumnya tidak akan mengakibatkan masalah jangka panjang. Namun apabila gigi tetap mulai tumbuh tapi kebiasaan ini belum berhenti, maka bisa dijumpai masalah pada gigi dan rahang. Tekanan jari dapat berakibat gigi atas bagian depan menjadi maju (tonggos) dan timbul jarak di antara gigi. Apabila gerakan menghisap amat kuat maka pipi juga memberi tekanan ke arah dalam, sehingga bentuk rahang menjadi tidak normal. Masalah lainnya yang dapat timbul adalah gangguan bicara, gangguan psikologis karena seringnya anak diolok-olok, dan bentuk jari yang tidak normal.

Kebiasaan menghisap jari umumnya berhenti dengan sendirinya pada usia 2 sampai 4 tahun. Apabila anak tidak berhenti sendiri, maka berikut adalah beberapa tips untuk membantu anak menghentikan kebiasaan tersebut:

  • Jangan memarahi, menghukum, atau mengolok-olok anak.
  • Komunikasi, ajaklah anak berkomunikasi sehingga dapat diketahui mengapa anak menghisap jarinya. Hal-hal yang sering menjadi pencetus kebiasaan ini adalah rasa bosan, cemas, takut, atau marah. Bicaralah pada anak dan cari tahulah bersama bagaimana mengatasi perasaan tersebut tanpa menghisap jari.
  • Buatlah suatu “kontrak” dengan anak. Buatlah perjanjian bahwa apabila anak dapat menghentikan kebiasaan tersebut pada waktu yang ditentukan bersama, maka anak diberi hadiah. Gunakanlah kalender di rumah yang ditandai apabila anak dapat menahan diri tidak menghisap jari pada hari tersebut.
  • Ingatlah untuk selalu memberi anak pujian setiap kali anak dapat menghindari memasukkan jarinya ke mulut. Anak-anak sangat suka dipuji!

Apabila cara-cara tersebut di atas tidak juga membuahkan hasil, datanglah ke dokter gigi. Perawatan biasanya tidak dimulai sebelum usia 5 tahun, karena umumnya anak akan menghentikan kebiasaan ini tanpa akibat yang permanen. Perawatan sebaiknya dilakukan apabila gigi tetap mulai muncul pada usia sekitar 6 tahun. Namun membawa anak ke dokter gigi sebelum usia ini juga bermanfaat.

Dokter gigi dapat melakukan tindakan seperti:

  • MENJELASKAN: pada anak tentang akibat buruk pada gigi karena menghisap jari. Dokter gigi dapat menunjukkan gambar gigi atau cetakan gigi yang menggambarkan akibat buruk dari kebiasaan ini. Anak-anak lebih mudah mencerna penjelasan apabila divisualisasikan.
  • MENYARANKAN: apabila anak ingin berhenti tapi perlu bantuan untuk menghentikan kebiasaan, maka dokter gigi dapat menyarankan penggunaan bahan tertentu untuk mengingatkan si anak. Bahan tersebut dapat berupa plester pada jari, sarung tangan, atau cairan pahit yang dioleskan ke jari anak.
  • MEMBUATKAN ALAT: berupa plat yang bisa dilepas atau alat yang dilekatkan pada gigi anak. Adalah penting supaya anak diberitahu bahwa alat ini bukan suatu hukuman bagi dirinya namun hanya mengingatkan si anak secara permanen untuk tidak menghisap jari. Alat ini hanya untuk anak yang memang juga ingin menghentikan kebiasaan. Apabila penggunaan alat dipaksakan, maka anak mungkin merusak alat atau berusaha melepaskan alat sehingga menyakiti dirinya sendiri. Alat ini umumnya dipakai 3 sampai 6 bulan.

Ingatlah, anda memegang peranan yang sangat penting dalam membantu anak menghentikan kebiasaan menghisap jarinya. Anak membutuhkan kasih sayang dan dukungan anda untuk dapat berhenti secara total.

Referensi:

  1. Bayardo RE, Mejia JJ, Orozco S, Montoya K Etiology of oral habits. ASDC Journal of Dentistry for Children 63: 350-353. (1996).
  2. Johnson ED, Larson BE Thumb-sucking: literature review. ASDC Journal of Dentistry for Children 60: 385-391. (1993).
  3. Josell SD Habits affecting dental and maxillofacial growth and development. Dental Clinics of North America 39: 851-859. (1995).
  4. Moore MB Digits, dummies and malocclusions. Dental Update 23: 415-422. (1996)
Share.

No Comments

Leave A Reply

Exit mobile version