Walaupun peran ayah penting dalam hidup anak, nyatanya negara kita belum merayakan pengakuan terhadap peran ayah. Buktinya, kita merayakan Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember, tapi tidak pernah merayakan Hari Ayah. Sementara itu secara internasional, Hari Ayah diperingati setiap hari Minggu pada minggu ketiga bulan Juni.
Menjelang hari itu, ada artikel menarik yang dikeluarkan oleh www.marketwire.com, yang melansir hasil penelitian dari National Center for Fathering dan National Parent Teacher Association (PTA). Ternyata, para ayah jaman sekarang mencetak prestasi yang jauh lebih membanggakan dibanding 10 tahun lalu. Prestasi tersebut adalah peningkatan persentase ayah yang terlibat dalam pendidikan anaknya. Yuk, kita simak sedikit persentase kenaikannya:
Tabel 1 – Kenaikan persentase keterlibatan ayah dalam pendidikan anak di sekolah

Meningkatnya keterlibatan ayah untuk sekolah anak mereka  
  Mengantar anak pergi ke sekolah 16%
  Menghadiri acara-acara di sekolah 11%
  Datang ke kelas anak 11%
     
Meningkatnya interaksi dengan guru, sekolah dan orangtua murid lain
  Menghadiri pertemuan orangtua murid 8%
  Menghadiri rapat sekolah 7%
  Menghadiri rapat orangtua murid (misalnya untuk kepanitiaan di sekolah) 12%
     
Meningkatnya interaksi dengan ayah lain untuk mendapat dukungan
  Bertemu dengan ayah lain untuk mendapat dukungan 20%

 
Di sisi lain, ternyata masih ada banyak ayah yang belum terlibat dalam pendidikan anak di sekolah. Inilah persentase ayah yang menjawab ‘tidak pernah’:
Tabel 2 – Persentase ayah yang tak pernah terlibat dalam pendidikan anak di sekolah

  Makan siang bersama anak di sekolah 74%
  Jadi sukarelawan di sekolah anak 54%
  Membaca buat anak 39%
  Mendatangi kelas anak 32%

 
Ternyata masih banyak juga ayah yang kurang terlibat dalam pendidikan anak di sekolah – seperti yang terlihat dalam tabel 2. Sedangkan kenaikan presentase seperti yang tersebut dalam tabel 1 sungguhlah membanggakan, bukan?
Memang apa untungnya sih jika ayah ikut terlibat dalam pendidikan anak? Ternyata banyak sekali! Coba keuntungan buat anak: jadi bisa bergaul lebih baik, problem perilakunya berkurang, lebih jarang terlibat kriminalitas dan penyalahgunaan obat, punya tingkat pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik dibandingkan ayahnya, lebih mampu berempati, ketika dewasa kelak mampu mendapatkan kehidupan seksual yang lebih sehat dan memuaskan, memiliki keyakinan diri yang lebih tinggi, dan lebih mensyukuri hidupnya. Anda mau kan punya anak yang seperti ini?
Fathering alias pengasuhan anak oleh ayah sesungguhnya masih jadi topik baru dalam dunia psikologi. Bukannya tak disadari, namun masih jarang penelitian yang fokus pada pola asuh ayah. Lebih banyak penelitian tentang pengasuhan oleh ibu, atau oleh kedua pasang orangtua. Namun adanya emansipasi wanita dan semakin banyak ibu yang bekerja, peran ayah akhirnya tak lagi bisa dihindari.
Kalau dulu, ayah adalah pencari nafkah, dengan ibu di rumah yang betul-betul bertanggungjawab untuk pendidikan anak. Ibu yang bekerja akhirnya memberikan perannya juga dalam mencari nafkah keluarga, sehingga sepantasnyalah peran pengasuhan anak juga dibagi setara. Peran ayah yang setara dengan ibu dalam pengasuhan anak bisa kita sebut sebagai Coparenting.
Dalam konsep Coparenting, baik ayah maupun ibu bekerjasama untuk mengasuh anak. Tidak selalu mereka harus melakukan hal yang sama persis bersama-sama. Bisa saja mereka sama-sama mengasuh, namun dengan keahlian masing-masing. Yang betul-betul hanya bisa dilakukan ibu dalam pengasuhan anak adalah membesarkan anak dalam kandungannya (walaupun stimulasi dalam kandungan bisa dilakukan bersama ayah), melahirkan dan menyusui. Namun hal-hal lain, tentu saja ayah juga bisa jadi jagonya.
Dalam hal apa saja sih seorang ayah bisa terlibat ? Selain yang disebut dalam tabel di atas, ayah juga bisa terlibat dalam banyak hal lho. Ini beberapa di antaranya:

  • · Mengajari anak: mengajari anak melakukan berbagai pola perilaku yang dianggap tugas lelaki, misalnya mencangkul untuk menanam pohon, membetulkan keran air, mencuci kendaraan, dll.
  • · Memperluas wawasan anak: bisa lewat cerita-cerita tentang apa yang dilakukan di kantor, diskusi tentang apa yang terjadi dalam masyarakat saat ini, ataupun lewat permainan tebak-tebakan.
  • · Memperbanyak kosa kata anak: bisa lewat banyak mengobrol bersama anak, membacakan buku cerita untuk anak, bernyanyi.
  • · Memperkenalkan konsep dasar: seperti warna, angka, bentuk, huruf, dll.
  • · Menemani anak belajar: terutama ketika mereka sudah masuk sekolah, maka ayah bisa ikut membantu anak mengerjakan PR.
  • · Mengajarkan cara berstrategi: misalnya lewat berbagai permainan yang menggunakan strategi seperti catur, monopoli, halma, dll, ataupun strategi dalam berbagai permainan tradisional.
  • · Mengajak anak berolahraga: boleh saja membuat anak jadi jagoan dalam olahraga, namun tak harus begitu, ini bisa jadi stimulasi bagi perkembangan motorik anak lho.
  • · Pendidikan moral: misalnya menegur ketika anak berbuat salah, memuji ketika anak berbuat benar, diskusi tentang mana yang benar dan salah di mata masyarakat, dll.

Menurut Andayani dan Koentjoro (2004), keterlibatan ayah harusnya dimulai dari inisiatif si ayah, bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Contohnya ketika si ibu harus memasak makan malam, ayah bisa mengajak anak bermain puzzle. Bisa juga ketika ibu sedang bermain bersama anak, ayah ikut bergabung. Perlu ayah ingat bahwa tugas mengasuh anak BUKAN hanya sekadar menggantikan ibu ketika sedang repot atau hanya ketika anak dalam kondisi menyenangkan (dan ketika anak menyebalkan di’kembalikan’ kepada ibu).
Ayah anak Anda tak punya inisiatif untuk terlibat dalam pendidikan anak? Ada beberapa penyebab lho, mau tahu?

  • Kepuasan dalam perkawinan. Apabila sering terjadi pertengkaran antara ayah dan ibu, seringkali ayah jadi menarik diri dari anaknya, walaupun sebetulnya penarikan diri ini bisa menimbulkan kemarahan ibu.
  • Kritik dari ibu. Ayah yang sering dikritik oleh ibu (terutama ketika sedang mengasuh anak) akan merasa tak sempurna sehingga merasa lebih baik tidak terlibat sama sekali dalam pengasuhan anak.
  • Ibu yang tak mau ayah terlibat, misalnya karena takut ‘posisi’nya direbut oleh ayah, sehingga ibu cenderung menghalangi ayah untuk dekat dengan anak.
  • Nilai-nilai pribadi. Masih ada ayah yang dibesarkan dalam tradisi “tugas mengasuh anak = tugas ibu”, ia lebih enggan untuk terlibat dalam pendidikan anak karena merasa jadi kurang jantan.
  • Kondisi lingkungan. Ayah yang tinggal di lingkungan yang para ayahnya terlibat mengasuh anak akan lebih mau terlibat dalam pendidikan anak dibandingkan yang mencela laki-laki pengasuh anak.
  • Ayah yang merasa penghasilannya cukup, biasanya akan lebih mampu terlibat dalam pendidikan anak dibandingkan ayah yang merasa kurang secara financial. Tak berarti besar-kecilnya penghasilan, namun persepsi si ayah (juga ibu) terhadap penghasilannya.

Kalau sudah tahu penyebabnya, ibu bijak pasti tahu langkah apa yang bisa diambil untuk membuat si ayah bisa lebih terlibat dalam pendidikan anak. Coba deh beberapa tips berikut, jauh lebih baik dilakukan sejak anak masih kecil, namun tetap bisa dilakukan ketika anak sudah lebih besar:

  • Ketika sedang meladeni anak, sesekali minta tolong si ayah untuk melakukan sesuatu. Misalnya ketika sedang menggantikan baju anak, ayah bisa memilihkan baju yang dianggap pantas atau memegangi anak.
  • Ucapkan terimakasih atas keterlibatan ayah, sambil tersenyum tentunya. Ucapan dan senyuman ini akan mendorong si ayah untuk mengulangi lagi bantuannya lain kali diminta lagi.
  • Kalau ingin mengkritik cara ayah membantu, lakukan setelah semua bantuan selesai dan anak sudah lebih tenang. Berikan kritik secara spesifik (misalnya, “Cara kamu menggendong anak kita tadi membuat saya berdebar-debar, karena setahu saya anak tak boleh diayun terlalu keras.”) dan dengan intonasi suara tenang. Cara ini dijamin lebih berhasil dibandingkan Anda berteriak-teriak marah dengan anak yang jadi ketakutan.
  • Jika ingin minta bantuan, katakan apa yang Anda harapkan, jangan menyindir. Daripada ibu bilang, “Harusnya kamu lebih terlibat pada pendidikan anak,” lebih baik katakan, “Minggu depan ada pertemuan orang tua dan guru, kita datang bersama-sama yuk.”
  • Berapapun penghasilan ayah, ada baiknya ibu bersyukur dan berusaha mencukupkan hidup dari sana. Terlalu banyak menuntut akan membuat ayah tak tenang dan akhirnya justru akan berusaha menekan ibu, dan juga menjadikan ayah tak dekat dengan anak.

Ayo para Ayah, tunggu apa lagi?
Referensi :

  1. Andayani, Budi & Koentjoro. (2004) Peran Ayah Menuju Coparenting. Indonesia: Citra Media.
  2. http://www.fatherhoodinstitute.org/index.php?id=12&cID=583 Fatherhood Institute Research Summary: Father’s Influence Over Children’s Education – Father’s Impact on Their Children’s Education and Achievement. 2007: October 6.
  3. http://www.marketwire.com/press-release/National-Pta-1005694.html Study: Dads Significantly More Engaged in Child’s Education. 2009: June 18.
Share.

No Comments

  1. anakku, artikelmu ok2… aku minta bahasan tentang bahasa dan kosakata anaktunarungu dong… terus aku mau tanya, buku diary untuk anak penting ga sich? makasih sebelumnya… (^_^)

Leave A Reply

Exit mobile version