[quote type=”center”]Si kecil tidak mampu menjumput benda berukuran kecil, ia juga kerap menjatuhkan barang. Apa yang salah ya ?[/quote]
 
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]P[/dropcap]ernah melihat seorang anak menulis dengan menekan pensilnya sedemikian kerasnya hingga pensilnya patah? Atau anak yang kelihatan ‘sembrono’, apa yang ia pegang terjatuh. Dan biasanya orangtua akan menganggap anak ini sebagai anak yang teledor.
Anak seperti tersebut di atas mengalami gangguan motorik halus yang disebut dengan clumsy.
Masalah seperti ini biasanya mulai muncul di tahun-tahun pertama usia sekolah, dan tampak sebagai kesulitan dalam menjalankan tugas motorik yang sederhana seperti berlari, mengancingkan baju atau memegang dan menggunting kertas.
Cermati kemampuan motorik anak
Kemampuan motorik halus diharapkan sudah muncul pada saat usia anak 3 tahun. Sejak bayi, orangtua dapat memantau perkembangan motorik halus.

  • Usia 3 bulan telapak tangan si kecil terbuka.
  • Usia 4 bulan mampu menyatukan kedua tangannya.
  • Usia 5 bulan mampu memindahkan benda dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya.
  • Mampu melemparkan benda pada usia 9 bulan.
  • Usia 11 bulan sudah bisa menjumput dengan dua jari (pincer grasp).
  • Usia 1 tahun sudah bisa menggunakan sendok.
  • Kemudian di usia 2 tahun bisa membuka baju sendiri.
  • Usia 3 tahun membuka kancing baju
  • Usia 5 tahun memasang tali sepatu, dan sebagainya.

Menurut data sekitar 6% anak usia sekolah mengalami masalah koordinasi motorik yang cukup serius yang mengganggu prestasi akademis dan personal sosial anak. Sayangnya, orangtua dan dokter sering “lolos” mengenalinya.
Di usia remaja, masalah bisa menjadi tambah pelik, karena anak “clumsy” cenderung memiliki masalah emosi, sosial dan pendidikan yang lebih rumit dibandingkan anak normal. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk dapat mengenali gangguan ini, sehingga dapat memberikan intervensi terbaik bagi putra putri mereka.

Ciri anak clumsy

  • Anak “clumsy” tidak terampil seperti anak lain dan harus “berjuang” dulu agar bisa terampil dalam bermain sepeda, menangkap bola, memegang pensil atau menggunting garis lurus pada kertas.
  • Terlambat menguasai keterampilan harian yang diperlukan untuk kemandirian, misalnya mengancingkan baju, melipat baju, menutup gelas minumnya, menyimpulkan tali sepatu, dsb.
  • Di sekolah, hampir tiap saat anak “clumsy” menabrak temannya, atau menyenggol sudut meja saat berjalan, atau tidak sengaja membenturkan lututnya ke pinggir meja belajar saat bangkit dari tempat duduknya.
  • Tidak jarang pula anak “clumsy” dilaporkan menjatuhkan atau membenturkan barang yang sedang dipegangnya secara tidak sengaja. Karena itu tak jarang anak dikucilkan dari pergaulan teman sebayanya karena prilakunya dianggap sembrono dan “grasa grusu.”
  • Lama kelamaan menjadi tidak percaya diri, dan mengisolir diri dari keterlibatan aktivitas yang membutuhkan keterampilan koordinasi motorik, misalnya olahraga.

Mengapa clumsy ?
Penyebab pasti belum diketahui. Ada yang mengatakan bahwa anak clumsy mengalami gangguan fungsi perencanaan motorik, yang dikenal sebagai “dyspraxia.” Peneliti lain mengatakan bahwa anak clumsy mengalami gangguan proprioseptif dan gangguan integrasi rangsang sensoris. Ada pula penelitian yang berpendapat bahwa anak ‘clumsy’ mengalami gangguan dalam memproses input visual
Bisa dikoreksi ?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan koordinasi cenderung menetap sampai dewasa dan berpengaruh terhadap prestasi akademis, fungsi sosial emosi dan prilaku individu tersebut kelak.
Apa yang dapat dilakukan ?
‘Menyembuhkan’ mungkin hanya dalam rangka mengurangi tingkat “keparahan” gangguan koordinasi motorik yang mereka alami. Terapi okupasi dapat dilakukan untuk meningkatkan beberapa keterampilan motorik tertentu, sehingga menumbuhkan kepercayaan diri pada individu clumsy dan keluarganya. Aktivitas tertentu mungkin dapat membantu, seperti kegiatan olahraga renang atau menunggang kuda.

Share.

No Comments

Leave A Reply

Exit mobile version