[quote type=”center”]Terapi inhalasi adalah pemberian obat yang dilakukan secara inhalasi (hirupan) ke dalam  saluran respiratorik.[/quote]
 
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]P[/dropcap]enggunaan terapi inhalasi sangat luas di bidang respirologi atau respiratory medicine. Terapi inhalasi sebenarnya sudah dikenal dan dilakukan manusia sejak lama. Persisnya kapan, datanya tidak jelas. Secara farmakologis, teknis pemberian obat perlu disesuaikan dengan organ sasaran yang dituju. Berdasarkan luas sebarannya, pemberian obat dapat dibagi dua, yaitu sistemik dan topikal. Inahalasi merupakan pemberian obat secara topikal, sama seperti halnya salep kulit atau tetes mata.
 
Sesuai dengan prinsip terapi topikal, maka terapi inhalasi mempunyai beberapa kelebihan, antara lain;

  1. Awitan efek segera, karena obat langsung bekerja di sasaran tanpa perlu menjalani proses yang panjang seperti pemberian secara sistemik.
  2. Dosis obat sangat kecil dibanding pemberian secara sistemik
  3. Efek samping obat minimal karena dosis totalnya yang kecil


Mencapai sasaran
Prinsip dasar terapi inhalasi adalah menciptakan partikel  kecil aerosol (respirable aerosol) yang dapat mencapai sasarannya, tergantung tujuan terapi melalui proses hirupan (inhalasi)
 
Sasarannya meliputi seluruh bagian dari sistem respiratorik, mulai dari hidung, trakea, bronkus, hingga saluran respiratorik terkecil (bronkiolus), bahkan bisa mencapai alveolus. Aerosol adalah dispersi dari partikel kecil cair atau padat dalam bentuk uap/kabut yang dihasilkan melalui tekanan atau tenaga dari hirupan napas. Oleh karena itu, besar partikel hirupan yang kita hasilkan harus berukuran <5mm agar dapat menghasilkan efek klinis.
 
Terapi inhalasi dapat digunakan untuk memberikan pengobatan terhadap berbagai kasus respiratorik, baik kasus infeksi maupun non-infeksi, dalam keadaan akut maupun terapi jangka panjang.
 
Jenis terapi inhalasi
Saat ini dikenal 3 alat inhalasi dalam praktek klinis sehari-hari;

  1. Nebulizer
  2. Dry power inhaler (DPI)
  3. Metered dose inhaler (MDI)

 
Nebulizer
Dari aspek teknis ada dua jenis nebulizer, jet dan ultrasonik.

  1. Nebulizer jet: menghasilkan aerosol dengan aliran gas kuat yang dihasilkan oleh kompresor listrik atau gas (udara atau oksigen) yang dimampatkan.
  2. Nebulizer ultrasonik: menggunakan tenaga listrik untuk menggetarkan lempengan yang kemudian menggetarkan cairan di atasnya, lalu mengubahnya menjadi aerosol.

 
Karena berbagai faktor, nebulizer jet merupakan nebulizer yang paling banyak digunakan, karena jet nebulizer dapat diandalkan dan dapat menebulisasi semua jenis obat. Alat ini dapat digunakan pada semua kasus respiratorik. Pemakaiannya hanya memerlukan sedikit upaya dan koordinasi. Selanjutnya yang dimaksudkan nebulizer adalah nebulizaer jet, kecuali jika disebutkan lain.

Volume isi adalah jumlah total cairan obat yang diisikan ke dalam labu nebulizer pada tiap kali nebulisasi. Volume residuadalah sisa cairan dalam labu nebulizer saat nebulisasi telah dihentikan. Sebagai patokan, jika volume residul sekitar 1ml, maka diperlukan volume isi sekitar 5 ml. Waktu nebulisasi adalah waktu sejak nebulizer dinyalakan dan aerosolnya dihirup sampai nebulizer dihentikan. Untuk bronkodilator, waktu nebulisasi tidak lebih dari 10 menit.
 
Nebulizer akan berjalan dengan baik bila :

  1. pasien duduk tegak di kursi
  2. bernapas dengan wajar  (biasa)
  3. hindari berbicara selama nebulisasi
  4. jaga labu nebulizer tetap dalam posisi tegak
  5. jika cairan obat dalam labu tinggal sedikit, dianjurkan agar menepuk-nepuk labu untuk meningkatkan volume output aerosol

 
Dry Powder Inhaler (DPI)
Inhaler jenis bersifat effort dependent karena sumber tenaga penggerak alat ini sepenuhnya adalah upaya inspirasi maksimal dari pasien sehingga juga disebut breath-actuated inhaler. Pada anak kecil (balita) hal ini sulit dilakukan mengingat  kemampuannya melakukan inspirasi kuat belum optimal. Pada anak   yang lebih besar (di atas 5 tahun), penggunaan alat ini relatif mudah karena tidak memerlukan manuver yang kompleks seperti pada MDI. DPI tidak memerlukan alat tambahan seperti spacer sehingga lebih praktis dan mudah untuk dibawa.
 
Metered Dose Inhaler (MDI)
Seperti halnya DPI, alat ini bersifat effort dependent, karena memerlukan manuver tertentu yang cukup sulit agar sejumlah dosis obat mencapai sasarannya. Pemakaiannya secara langsung tanpa spacer bahkan lebih sulit daripada DPI. Sumber tenaga penggeraknya adalah propelan (zat pembawa) yang dibuat bertekanan tinggi dalam suatu tabung alumunium yang disebut kanster.
 
Salah paham tentang efektivitas alat inhalasi
Di kalangan awam, bahkan juga di sebagian kalangan medis, ada anggapan bahwa terapi inhalasi dengan nebulizer lebih unggul dibanding cara lain. Banyak studi yang membuktikan bahwa bila digunakan dengan benar, DPI dan MDI dengan spacer sama efektifnya dengan nebulisasi. Namun untuk mengubah pandangan ini tidak mudah. Agaknya hal ini terkait dengan aspek psikologis. Pada terapi nebulisasi, ‘upacaranya’ lebih terasa, mulai dari menyiapkan obat dan alatnya, dan juga visualisasi obat dalam bentuk kabut yang nyata.
 
Referensi :

  • Disarikan dari artikel “Terapi Inhalasi pada Anak” oleh Dr. Darmawan B. Setyanto, SpA(K) dari Buku Bunga Rampai Tips Pediatrik. Buletin IDAI. 2008.
Share.

Leave A Reply

Exit mobile version