Browsing: makanan
Tak dapat dipungkiri, saat ini, anak-anak kita lebih senang makan mie instan. Bagaimana cara bijak menyiasatinya?
Frekuensi makan yang baik adalah 3 kai sehari. Makan pagi (sarapan) sebaiknya jangan sampai ditinggalkan. Bagi balita, terkadang frekuensi makan bisa lebih sering karena lambungnya kecil dan daya tampungnya sedikit sehingga perlu makan lebih sering dibanding dewasa.Secara kuantitas dan kualitas, rasanya sulit untuk memenuhi kebutuhan gizi apabila seorang anak hanya makan 1 atau 2 kali sehari. Sebagian orangtua merasa bangga kalau anaknya minum susu banyak, meski makannya sedikit. Ini tentu saja keliru. Bagi anak usia lebih dari 1 tahun, makan harus lebih diutamakan.
“Dok, Didi sakit batuk pilek disertai panas tinggi. Saya sudah buatkan bubur tapi Didi tidak mau makan. Didi hanya mau makan kalau dengan nasi Dok.” Keluhan seperti ini masih saja terdengar di ruang praktik. Perawat di bangsal rumah sakit pun sering memesankan makan dalam bentuk bubur secara otomatis untuk setiap anak yang mondok di rumah sakit. Benarkah setiap anak sakit itu harus diberi makan dalam bentuk bubur? Bagaimana sebaiknya kita memberi makan untuk si kecil yang sedang sakit?
ASI di hari pertama setelah si kecil dilahirkan memang jumlahnya tak banyak, namun jangan salah, cairan berwarna putih kekuningan ini kaya akan zat imun.
“Begitu sehabis melahirkan, saya ingin segera menyusui bayi saya tetapi mengapa bukan susu yang keluar, melainkan cairan kekuningan? Mengapa jumlahnya tidak banyak? Kapan ASI saya akan banyak?”
Kalimat di atas seringkali terucap pada ibu yang baru melahirkan, terutama para ibu yang baru melahirkan anak pertamanya. Tentunya hal ini tidak akan terjadi kalau para ibu mengetahui betapa berartinya cairan tersebut.
Jika Anda ingin si
kecil sehat, sehatkan dulu saluran cernanya.
Mungkin Anda salah satu orang tua yang memberikan suplemen multivitamin untuk anak. Salah satu zat yang kerap diberikan adalah kurkuma. Apa sebenarnya zat ini dan benarkah ada manfaatnya?
Kurkuma atau kurkumin adalah zat aktif yang terdapat dalam tumbuhan “temu-temuan” di antaranya temu lawak dan kunyit. Temu lawak (Curcuma xantorrhiza Roxb) merupakan sumber kurkuma yang berasal dari pulau Jawa dan paling banyak dipakai sebagai bahan baku obat tradisional, mudah tumbuh di hutan-hutan hingga halaman rumah yang kaya sinar matahari.